Balada Tempe Goreng

Hari ini padet banget, bangun tidur ngurusi kerjaan sampai dzuhur, LF sampai jam 16.00 kemudian disambung rapat panitia Silatnas di Masjid Museum Brawijaya. Iya, kami komunitas IIBF Malang sedang mengadakan acara yang cukup besar dengan kapasitas peserta di atas 500 orang dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Tanpa terasa hingga Maghrib semua kegiatan baru selesai. Aku juga baru ingat kalau seharian belum makan (tau gitu sekalian puasa ya).

Setelah gagal membujuk ketua acara untuk mentraktir anggotanya yang letih dan lesu ini untuk menjamu dengan makan malam, akhirnya kuputuskan untuk makan sendiri.

Dari arah Ijen langsung cari tempat makan di daerah Kawi. Cukup banyak pilihan disini, tapi karena pengen yang pedes-pedes akhirnya ke Ayam Coblos.

Karena masih dalam mode diet dan hidup semurah mungkin maka aku hanya memilih ayam + es teh. Ngelirik makanan faforitku “tempe goreng” rasanya ngiler banget. Tapi ya disini itu lho, 4 potong tempe kecil dibendrol 5000. Padahal beli tempe di mrijo dan digoreng sendiri bisa dibuat lauk 3 hari 2 malam tuh. Ya weis, dahaga tempe ini harus ditahan. (opo iku dahaga tempe???)

Karena tempatnya sepi, makanpun jadi enak. ‘Ngemut’ dan ‘nitili’ tulang ayampun gak malu. Adapun para pegawainya semua rata-rata menunduk, seperti dayang-dayang yang sedang menghadap sang raja. (baca: mereka sibuk sama kerjaanya masing-masing). Sampai saat inipun aku tak berhenti mikir, “nambah tempe gak yaa”

Wanita Perokok vs Pria Bertato

Ada 2 meja lain yang terisi, yang pertama dua wanita muda cantik yang saling ngobrol berada tepat di depanku. Kebetualan aku duduk menghadap mereka. Cukup 1 menit, aku langsung balik badan, ganti tempat duduk dan membelakangi mereka. Aku harus menjaga pandangan bung setelah puasa, ditambah lagi salah satunya ngerokok. I hate smoker in public area! even more a girl. Its crazy. Kalau di Singapura mereka udah kena denda $5000 SGD tuh.

Setelah membalik badan pemandangannya ganti 180 derajat! Pelanggan yang satu ini hanya berjarak 2 meja di depanku. Seorang pria muda hitam berwajah sangar (walau sedikit mirip Bruno Mars sih) dan tato di sekujur kanannya tangannya. Ngeri bung! Tak ku hiraukan orang yang satu ini.

Karena porsi nasinya kecil akhirnya aku nambah. Dilema juga sih karena lauknya hampir habis. kelihatannya aku harus menikmati nasi dan sambel saja setelah si ayam habis.

“Mas?”, pria bertato mendekatiku dengan sedikit membungkuk.

“Ya mas ada apa?”, jawabku

“Ini mas, tadi saya sudah makan sama temen-temen. Itu saya ada tempe nganggur. Belum tak apa-apain kok mas. Mas mau kah?”, dengan nada yang cukup sopan.

Seraya menjaga imej, aku sedikit mengernyit, “Ya, boleh lah mas. SAYA BANTU daripada mubadzir”. #tsah. Pembaca tau kan kenapa pakai huruf besar 😀

Gila bung! 1 porsi tempe yang kelihatannya gak disentuh sama sekali mendarat dimejaku dengan cuma-cuma. Terima kasih ya Allah, rasanya ingin sujut syukur (lebai).

Di Malaysia, cuma-cuma = gratis

Begitu baiknya Allah. Sebagai muslim yang baik harusnya kalau memang kepingin ya tinggal minta, tinggal doa. Lha ini, kita gak minta aja malah dikasih oleh seseorang yang kelihatannya gak meyakinkan sama sekali. Dia kan bisa saja memakannya, wong porsinya dikit atau bahkan meninggalkannya tergeletak.

Ini bahasa Belandanya “Don jude buk bay de kover!”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *